“KRITIK BERADAB” TERHADAP URBANISASI DI KOTA BANDUNG DALAM FILM SI KABAYAN DAN GADIS KOTA (1989)
Kata Kunci:
Film Kabayan; urbanisasi; gelandangan; kritik beradab; analisis naratifAbstrak
Film Si Kabayan dan Gadis Kota (1989) menampilkan dua adegan yang secara implisit mengkritik fenomena gelandangan serta kebijakan pembangunan terpusat pada kota besar pada era Orde Baru. Latar belakang penelitian ini adalah percepatan urbanisasi Bandung pada akhir 1980-an yang memicu ketimpangan pembangunan, kemiskinan, dan peningkatan populasi tunawisma. Tujuan penelitian ialah menguak bagaimana film tersebut menyampaikan kritik beradab—kritik halus, etis, dan humoristik—terhadap urbanisasi berlebih dan penanganan gelandangan. Metode yang digunakan adalah analisis teks (textual analysis) kualitatif, meliputi transkripsi dialog, kode waktu, dan analisis teknik sinematik (close-up, long-shot, medium-shot). Data dikoding berdasarkan tema-tema kritis (urbanisasi, ketimpangan, kebijakan sosial), kemudian diinterpretasikan melalui triangulasi dengan literatur tentang urbanisasi Indonesia, pembangunan desa, dan teori sinema. Hasil menunjukkan film menyampaikan kritik melalui dialog satir Ibing, penggunaan close-up untuk menonjolkan penderitaan tunawisma, serta long-shot yang menegaskan konteks sosial-politik kota. Kritik tersebut bersifat beradab: disampaikan dengan bahasa sopan dan humor, sehingga menghindari konfrontasi langsung namun tetap memicu refleksi sosial. Temuan ini memperluas pemahaman tentang peran sinema sebagai media politik yang dapat menembus sensor Orde Baru dan menyuarakan keadilan sosial.
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Hak Cipta (c) 2025 Rangga Saptya Mohamad Permana, Undang Ahmad Darsa, Elis Suryani Nani Sumarlina

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.