A PERSPEKTIF SOSIOLINGUISTIK PENGGUNAAN VOKATIF SERAPAN BAHASA SUNDA

https://doi.org/10.61296/kabuyutan.v4i3.393

Penulis

Kata Kunci:

vokatif serapan, sosiolinguistik, adaptasi, hubungan sosial, tingkat tutur

Abstrak

Abstrak

            Tulisan ini membahas vokatif serapan dalam bahasa Sunda. Penelitian bersifat deskriptif kualitatif. Penyediaan data menggunakan metode simak, yakni menyimak penggunaan vokatif serapan bahasa Sunda oleh para tokoh dalam buku fiksi berbahasa Sunda. Analisis data menggunakan metode padan, yakni padan referensial dan translasional dengan pendekatan sosiolinguistik. Sumber data yang digunakan sebanyak tujuh buah buku fiksi berbahasa Sunda sebagai sampel. Berdasarkan sumber data dan kriteria data yang ditentukan ditemukan dua puluh kalimat yang memuat empat belas vokatif serapan yang dituturkan penutur kepada mitra tutur. Keempat belas vokatif serapan yang sudah diadaptasi dalam bahasa Sunda ini adalah (1) Nyonya, (2) Babah, (3) Engko, dan (4) Ko dari bahasa Tionghoa; (5) Enon, (6) Non, dan (7) Mandor dari bahasa Portugis; (8) Embok, (9) Mas, dan (10) Lurah dari bahasa Jawa; (11) Tuan dari bahasa Indonesia/Melayu, (12) Sobat dan (13) Ketib dari bahasa Arab; (14) Lebé dari bahasa Tamil. Berdasarkan jenisnya, vokatif serapan ini ada enam, yaitu (1) vokatif kekerabatan, (2) vokatif penghormatan, (3) vokatif keakraban, (4) vokatif keagamaan, (5) vokatif profesi, dan (6) vokatif jabatan dalam pemerintah. Hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur dalam penggunaan vokatif serapan ini ada sembilan, yaitu (1) pembantu-majikan, (2) pembantu-anak majikan, (3) ketetanggaan, (4) pejabat pemerintah-warga, (5) warga-pejabat pemerintah, (6) pembeli-pedagang, (7) kenalan baru, (8) antara pejabat pemerintah, dan (9) kenalan lama. Penggunaan tingkat tutur dalam penggunaan vokatif serapan ada dua kode, yaitu kode akrab dan kode hormat dengan

penggunaan yang seimbang.

Kata Kunci: vokatif serapan, sosiolinguistik, adaptasi, hubungan sosial, tingkat tutur

Diterbitkan

2025-12-22