KONTROVERSI HERMENEUTIKA DALAM PENAFSIRAN TEKS AL-QURAN: PERSPEKTIF FILOLOGI
Kata Kunci:
Syekh Abdul Qodir Jailani, Epistemologi, Sufistik, Sirr al-AsrârAbstrak
Pendekatan hermeneutika dalam penafsiran Al-Quran dapat dianggap sebagai isu kontroversial di ranah studi Islam dewasa ini. Hermeneutika dipandang sebagai metodologi ilmiah yang mampu menjembatani jarak historis, linguistik, dan kultural antara teks suci dan realitas modern. Bahkan, pendekatan itu dikritik keras karena dianggap berakar dari tradisi filsafat Barat sekuler, berpotensi merelatifkan makna wahyu, serta menggeser otoritas tafsir dari teks ilahi kepada subjektivitas penafsir. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis kontroversi di kalangan para ahli terkait penafsiran hermeneutika Al-Quran dengan menelusuri basis epistemologis, metodologis, serta implikasi teologisnya. Penelitian ini memanfaatkan metode kualitatif dengan melakukan studi literatur untuk membahas, secara deskriptif-kritis, karya-karya tokoh yang berbeda dalam memandang penafsiran Al-Quran sekarang, baik dari para pemikir Muslim maupun sarjana Barat. Data dianalisis melalui pendekatan komparatif antara metodologi tafsir model hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer dan hermeneutika kritis Paul Ricoeur. Hasil kajian menunjukkan bahwa kontroversi hermeneutika Al-Quran tidak semata-mata bersumber dari perbedaan metode, tetapi juga dari perbedaan paradigma epistemologi tentang hakikat wahyu, bahasa ilahi, dan otoritas penafsiran. Artikel ini menyimpulkan bahwa hermeneutika dapat berfungsi sebagai perangkat bantu metodologis sepanjang ditempatkan secara proporsional, tidak menggantikan prinsip dasar ulūm al-Qur’ān, serta tetap berlandaskan pada akidah Islam. Dengan demikian, dialog metodologis antara tafsir klasik dan hermeneutika modern perlu dikembangkan secara kritis dan selektif, bukan ditolak atau diterima secara absolut.
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Hak Cipta (c) 2025 Ade Kosasih

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.