KONSTRUKSI MAKNA HIGH VALUE MAN PADA KANAL YOUTUBE @PRIASERATUSPERSEN SEBAGAI NARASI PSIKOEDUKASI MASKULINITAS PRIA MUDA

https://doi.org/10.61296/jkbh.v8i1.409

Penulis

  • Rendy Erkananda Universitas Padjadjaran, Sumedang, Indonesia
  • Eni Maryani Universitas Padjadjaran, Sumedang, Indonesia
  • Putri Trulline Universitas Padjadjaran

Kata Kunci:

High Value Man; maskulinitas; psikoedukasi; media digital; YouTube

Abstrak

Media digital, khususnya YouTube, menjadi ruang penting dalam penyebaran wacana pengembangan diri dan maskulinitas pria muda. Salah satu kanal yang menonjol di Indonesia adalah @PRIASERATUSPERSEN yang mengomunikasikan konsep High Value Man melalui pendekatan psikoedukatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana makna High Value Man dikonstruksikan sebagai narasi psikoedukasi maskulinitas dalam konten kanal tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dan paradigma konstruktivis. Data diperoleh melalui analisis konten video, kajian visual dan naratif, serta penelaahan interaksi audiens pada kanal YouTube @PRIASERATUSPERSEN. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik dan analisis wacana kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa High Value Man direpresentasikan sebagai figur pria ideal yang menekankan rasionalitas, disiplin diri, stabilitas emosional, dan orientasi pencapaian. Psikoedukasi dikonstruksikan sebagai proses pengembangan diri yang bersifat individual dan berfokus pada kontrol diri serta tanggung jawab personal. Simpulan penelitian menunjukkan bahwa kanal @PRIASERATUSPERSEN berfungsi sebagai ruang psikoedukasi digital bagi pria muda, namun sekaligus mereproduksi standar maskulinitas normatif yang berpotensi membatasi pemaknaan maskulinitas secara lebih reflektif dan inklusif.

Referensi

Berger, P. L., & Luckmann, T. (1966). The Social Construction of Reality. New York: Anchor Books.

Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77–101.

Connell, R. W., & Messerschmidt, J. W. (2005). Hegemonic Masculinity: Rethinking the Concept. Berkeley: University of California Press.

Creswell, J. W. (2014). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. Thousand Oaks, CA: Sage Publications.

Florenta, A., Wahyudi, T., & Sabardila, A. (2022). YouTube sebagai ruang pembentukan identitas generasi muda di Indonesia. Jurnal Ilmu Komunikasi, 20(1), 45–60.

Hall, S. (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. London: Sage Publications.

Keum, B. T., & Ogrodniczuk, J. S. (2023). Masculinity norms and men’s engagement in mental health help-seeking. American Journal of Men’s Health, 17(1), 1–12.

Khurana, A. (2023). Self-improvement culture and digital masculinity in the manosphere. Men and Masculinities, 26(3), 389–407.

Leucht, S., et al. (2001). Psychoeducation for schizophrenia. Cochrane Database of Systematic Reviews, 2, 1–24.

Rosida, I., & Azwar, S. (2021). Representasi maskulinitas dalam konten YouTube Indonesia. Jurnal Komunikasi Indonesia, 10(2), 123–137.

Sonni, R., Pratama, R., & Hidayat, M. (2025). Maskulinitas kompetitif dalam media digital Indonesia. Jurnal Kajian Budaya, 9(1), 1–15.

Sugiyono. (2023). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Utomo, A., & Maharani, D. (2021). Maskulinitas dan representasi gender dalam media digital. Jurnal Gender dan Media, 5(2), 87–101.

Waling, A., et al. (2018). Young men’s masculinities and mental health. Journal of Sociology, 54(4), 599–616.

Watkins, D. C., et al. (2020). Men’s mental health promotion and digital media. American Journal of Men’s Health, 14(4), 1–11.

Yin, R. K. (2018). Case Study Research and Applications. Thousand Oaks, CA: Sage Publications.

Yuliarti, E. (2020). Representasi maskulinitas pria dalam media daring. Jurnal Sosiohumaniora, 22(3), 301–312.

Diterbitkan

2026-02-12

Artikel Serupa

<< < 1 2 3 4 5 > >> 

Anda juga bisa Mulai pencarian similarity tingkat lanjut untuk artikel ini.