DARI LITERAL KE INTERPRETATIF: PEMBACAAN “TEKS TAK TERTULIS” DALAM KARYA SASTRA
Kata Kunci:
naratif; celah-ruang kosong; penghantuan; tak tertulisAbstrak
Kekuatan sastra naratif sering didiskusikan dalam kaitannya dengan kemampuan narasi membuka celah dan ruang kosong yang harus diatasi secara estetis oleh pembacanya. Namun demikian, cara pembacaan yang semata bersifat estetik belum memberi ruang optimalnya bagi kekuatan sastra naratif sesungguhnya. Kekuatan tersebut terkait erat dengan realitas yang ditunjukkannya dengan berbagai cara dan tidak cukup direspons hanya sebatas estetis. Artikel ini bertujuan memetakan proses pembacaan interpretatif atas karya sastra naratif untuk pengembangan literasi berbasis critical thinking melalui penerapan konsep gap-blank dan haunting-haunted. Konsep-konsep tersebut digunakan untuk menunjukkan fenomena penyembunyian, ketakhadiran, atau bahkan penghilangan narasi yang berdampak kepada pergeseran cara membaca literal ke pembacaan interpretatif terhadap Ditoeng Memeh Hoedjan karya Pangeran Soeria Atmadja. Hasil penelitian ini adalah pembacaan interpretatif atas teks dihasilkan dari adanya suara-suara yang terpecah dan pengalaman-pengalaman yang dibungkam dalam karya.
Referensi
Abbott, H. P. (2008). The Cambridge introduction to narrative (2nd ed.). Cambridge University Press.
Althusser, L. (2001). Ideology and ideological state apparatuses (B. Brewster, Trans.). Verso. (Karya asli diterbitkan 1970)
Bal, M. (1997). Narratology: Introduction to the theory of narrative (2nd ed.). University of Toronto Press.
Bhabha, H. K. (1994). The location of culture. Routledge.
Caruth, C. (1996). Unclaimed experience: Trauma, narrative, and history. Johns Hopkins University Press.
Derrida, J. (1994). Specters of Marx: The State of the Debt, the Work of Mourning and the New International. New York: Routledge.
Felman, S., & Laub, D. (1992). Testimony: Crises of witnessing in literature, psychoanalysis, and history. Routledge.
Fish, S. (1980). Is there a text in this class? The authority of interpretive communities. Harvard University Press.
Freire, P. (2005). Pedagogy of the oppressed (30th anniversary ed.). Continuum. (Karya asli diterbitkan 1970)
Genette, G. (1980). Narrative Discourse: An Essay in Method. Ithaca: Cornell University Press.
Gordon, A. F. (2008). Ghostly Matters: Haunting and the Sociological Imagination. Minneapolis: University of Minnesota Press.
Hardjasaputra, A. Sobana. 2004. “Bupati di Priangan: Kedudukan dan Peranannya pada Abad ke-17 – Abad ke-19”. Sundalana 3. Bandung: Pusat Studi Sunda.
Herman, D. (2009). Basic elements of narrative. Wiley-Blackwell.
Herlina, Nina. 1998. Kehidupan Kaum Ménak Priangan 1800-1942. Bandung: Pusat Informasi Kebudayaan Sunda.
Iser, Wolgang. 1987. The Act of Reading: A Theory of Aesthetic Response. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press.
Jakobson, R. (1987). Language in literature (K. Pomorska & S. Rudy, Eds.). Harvard University Press.
Kartadibrata, R. M. Abdullah. 1988. Riwayat Kangjeng Pangeran Aria Suria Atmaja (Pangeran Mekah); Bupati Sumedang Taun 1882-1919. Sumedang: museum Prabu Geusan Ulun
LaCapra, D. (2001). Writing history, writing trauma. Johns Hopkins University Press.
Loomba, Ania. 2003. Kolonialisme/ pascako-lonialisme. diterjemahkan Hartono Hadi-kusumo dari buku Colonialism /Postcolonialism. Jogjakarta: Bentang Budaya.
Luke, A. (2012). Critical literacy: Foundational notes. Theory Into Practice, 51(1), 4–11. https://doi.org/10.1080/00405841.2012.636324
Macherey, P. (1978). A theory of literary production (G. Wall, Trans.). Routledge & Kegan Paul.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.
Prince, G. (1988). A dictionary of narratology. University of Nebraska Press.
Raksakusumah, Said & E.S. Ekadjati. 1978. Babad Sumedang (Transkripsi). Bandung: Lembaga Kebudayaan Unpad.
Ricoeur, P. (1976). Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning. Fort Worth: Texas Christian University Press.
Rosenblatt, L. M. (1995). Literature as exploration (5th ed.). Modern Language Association.
Soerjaatmadja, Aria. (tanpa tahun).Ditioeng Memeh Hoedjan. Tanpa Penerbit
White, H. (1987). The content of the form: Narrative discourse and historical representation. Johns Hopkins University Press.
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Hak Cipta (c) 2026 Asep Yusup Hudayat

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.