“JANGAN NAKAL, NANTI DIPANGGIL KANG DEDI!”: KAJIAN KOMUNIKASI KELOMPOK ATAS FENOMENA PHOBIA KDM

https://doi.org/10.61296/jkbh.v8i1.415

Penulis

  • Agus Setiaman Unpad
  • Mutia Fauziah Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi PSDKU Pangandaran, Universitas Padjadjaran
  • Azizul Rahman Dosen Prodi Ilmu Komunikasi PSDKU Pangandaran, Unverstas Padjadjaran

Kata Kunci:

Komunikasi Kelompok; Fenomena Phobia KDM

Abstrak

Sejak menjabat menjadi gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi membuat berbagai kebijakan. Salah satu kebijakan yang paling fenomenal dan menarik banyak perhatian adalah mengirim remaja nakal ke barak militer. Berangkat dari kebijakan tersebut, muncul fenomena phobia KDM akibat penggunaan figur KDM sebagai alat ancaman dalam mendisiplinkan anak anak. Hal ini menunjukkan kompleksitas dalam praktik komunikasi dalam praktik komunikasi keluarga. Dalam upaya menanamkan kedisiplinan, orang tua cenderung menggunakan pendekatan instan dengan mengandalkan rasa takut. Salah satunya teguran keras kepada anak-anak. Masalah utama yang muncul adalah bagaimana pola komunikasi dalam keluarga, sebagai kelompok kecil, membentuk kebiasaan komunikasi yang disfungsional. Jika hal demikian terus berlanjut, alih alih menjadi tempat yang aman dan mendukung, keluarga justru berpotensi menjadi ruang dimana otoritas orang tua ditegakkan dan menakuti, bukan mendidik. Fenomena ini mengindikasikan lemahnya pemahaman sebagian orang tua terhadap pola komunikasi yang sehat dalam kelompok. Ketidakseimbangan ralasi kuasa antara orang tua dan anak, serta minimnya edukasi mengenai metode disiplin yang konstruktif menjadi akar dari permasalahan ini. Penggunaan teknik komunikasi otoriter dalam keluarha dapat membentuk struktur kelompok yang kaku dan tidak adaptif, dimana anak hanya menjadi peneriman infirmasi tanpa kesempatan untuk mengemukakan pendapat atau mengekspresikan perasaan. Selain itu, dampak lain yang mungkin dirasakan oleh anak dalam permasalah ini adalah ketakutan sesaat, gangguan tidur, serta berkembangnya citra negatif terhadap figur otoritas seperti guru atau tokoh masyarakat lainnya. Selain itu, berkaitan dengan penyebaran fenomena ini melalui media sosial, yang memperluas cakupan dan pengaruhnya secara cepat. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana komunikasi kelompok melalui dunia maya bisa memperkuat makna simbolik tertentu, yang dalam hal ini memperkuat rasa takut kolektif terhadap sosok publik. Proses ini tidak hanya terjadi dalam ruang privat keluarga, tetapi juga diperkuat oleh interaksi dalam kelompok yang lebih luas, seperti komunitas media sosial dan kelompok sebaya anak.

Referensi

Ariani, A. S. (2025). KDM Syndrome dalam Parenting: Ancaman Barak Tentara dan Luka Psikologis Anak. Kumparan. https://kumparan. com/aris-kurniyawan-1745459901112797863 /kdm-syndrome-dalam-parenting-ancaman-barak-tentara-dan-luka-psikologis-anak-259GrO7NbJT

Blumer, H. (1969). Symbolic Interactionism: Perspective and Method. University of California Press.

Kompas. (2025). Kang Dedi Phobia dan Trauma Kanak-kanak. Kompas.id. https://www.kompas.id/artikel/kang-dedi-phobia-dan-trauma-kanak-kanak

Noelle-Neumann, E. (1974). The Spiral of Silence: A Theory of Public Opinion. Journal of Communication, 24(2), 43–51.

Rogi, B. A. (2015). Peranan Komunikasi Keluarga dalam Menanggulangi Kenakalan Remaja. E-Journal Ilmu Komunikasi Universitas Sam Ratulangi, 3(2), 1–10.

Siregar, Y., Yunitasari, & Partha, Y. (2021). Model Pola Asuh Otoriter Orang Tua Terhadap Perkembangan Kepribadian Anak. Jurnal Golden Age: Jurnal Ilmiah Tumbuh Kembang Anak Usia Dini, 6(1), 139–146. https://e-journal.hamzanwadi.ac.id/index.php/jga/article/view/3385

Diterbitkan

2026-03-02

Artikel Serupa

1 2 3 4 5 6 7 > >> 

Anda juga bisa Mulai pencarian similarity tingkat lanjut untuk artikel ini.

Artikel paling banyak dibaca berdasarkan penulis yang sama

1 2 > >>