ADAKAH KETERKAITAN MUNCULNYA KATA MATA ‘MATA’ TERHADAP MATAPOÉ ‘MATAHARI’ BAHASA SUNDA SECARA GEOGRAFIS?

https://doi.org/10.61296/jkbh.v8i1.414

Penulis

Kata Kunci:

geografis; titik pengamatan; keterkaitan; morfologi; pembentukan

Abstrak

Artikel ini berjudul “Adakah Keterkaitan Munculnya Kata Mata ‘Mata’ terhadap Kata Matapoé ‘Matahari’ Bahasa Sunda secara Geografis?” Artikel ini membahas bagaimana keterkaitan atau pengaruh munculnya kata mata terhadap munculnya kata matapoé dalam bahasa Sunda secara geografis? Penelitian ini bersifat deskriptif diakronis. Metode pengumpulan data menggunkan metode simak langsung di lapangan dengan teknik rekam dan catat dengan menggunakan instrumen penelitian berupa daftar tanya yang memuat kosakata dasar Swadesh dan kosakata budaya. Lokasi penelitian bertempat di 26 desa dan kelurahan berbahasa Sunda di perbatasan Bogor-Bekasi, Jawa Barat (2005) serta 30 desa dan kelurahan berbahasa Sunda di Kecamatan Banjarharjo dan Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah (2016). Informan sebagai sumber data masing-masing satu orang untuk setiap desa atau kelurahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 69% titik-titik pengamatan di perbatasan Bogor-Bekasi, Jawa Barat memperlihatkan adanya keterkaitan antara munculnya kata mata ‘mata’ terhadap munculnya kata matapoé ‘matahari’, kemudian 67% titik-titik pengamatan di Kecamatan Banjarharjo dan Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah memperlihatkan adanya keterkaitan antara munculnya kata mata ‘mata’ terhadap munculnya kata matapoé ‘matahari’. Dengan demikian, ada kecenderungan munculnya sebuah kata karena kata lain karena secara morfologi bentuk kata yang memengaruhi, yakni mata, menjadi dasar bagi pembentukkan kata yang dipengaruhi, yakni matapoé.

Referensi

Ayatrohaedi. (2003). Pedoman Penelitian Dialektologi. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Chambers, J.K. and Peter Trudgill. (1980). Dialectology. Cambridge, New York, Melbourne: Cambridge University Press. Ciputat: Logos.

Danadibrata, R.A. (2009). Kamus Basa Sunda. Bandung; Kiblat Buku Utama.

Nothofer, Bernd. (1977a). “Dialektgeografische Untersuchung Des Sundanesichen und Des Entlang Der Sundanesichen Sprachgrenze Gesprochenen Javanischen und Jakarta-Malaiischen”. Erster Teil. Habilitations-schrift Vorgelegt Der Philosophisen Fakultät der Universität zu Köln.

Nothofer, Bernd. (1977b). “Dialektatlas von West-Java und Den Westlichen Gebieten Zentral-Javas”. Zweiter Teil. Habilita-tionsschrift Vorgelegt Der Philosophisen Fakultät der Universität zu Köln.

Wahya. (1995). Bahasa Sunda di Kecamatan Kandanghaur dan Kecamatan Lelea Kabupaten Indramayu: Kajian Geografi Dialek.

Wahya. (2005). “Inovasi dan Difusi-Geografis Leksikal Bahasa Melayu dan Bahasa Sunda di Perbatasan Bogor-Bekasi: Kajian Geolinguistik”. Disertasi Doktor. Ban-dung: Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.

Wahya. 2015. Bunga Rampai Penelitian Bahasa dalam Perspektif Geografis. Bandung: Semiotika.

Wahya. (2016). “Pemetaan Bahasa Sunda Wewengkon di Wilayah Perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah”. Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi. Universitas Padjadjharan.

Zoetmulder. 2011. Kamus Jawa Kuna-Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Diterbitkan

2026-03-02

Artikel Serupa

1 2 > >> 

Anda juga bisa Mulai pencarian similarity tingkat lanjut untuk artikel ini.

Artikel paling banyak dibaca berdasarkan penulis yang sama